Senin, 17 November 2014

ebola

virus ebola
                           I.          Definisi Ebola
Penyakit virus ebola (EVD) atau demam berdarah Ebola (EHF) adalah penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus Ebola. Gejalanya biasanya dimulai dua hari hingga tiga minggu setelah terjangkit virus, dengan adanya demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Biasanya diikuti dengan mual, muntah, dan diare, serta menurunnya fungsi liver dan ginjal. Pada saat itu, beberapa orang mulai mengalami masalah pendarahan.
Virus Ebola pertama kali muncul pada tahun 1976 di Zaire dan Sudan. Kasus Ebola di Zaire memiliki salah satu tingkat fatalitas kasus tertinggi dari virus patogen manusia, sekitar 90%, dengan tingkat fatalitas kasus 88% pada tahun 1976, 59% pada tahun 1994, 81% pada tahun 1995, 73% pada tahun 1996, 80% pada 2001-2002, dan 90% pada tahun 2003. Di Sudan memiliki tingkat fatalitas kasus sekitar 50%.
Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit penderita. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21 hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan vaksin untuk Ebola yang 90% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk manusia belum ditemukan.

Penyakit Ebola merupakan penyakit yang paling mematikan diseluruh dunia. Karena bila terinfeksi maka kesempatan untuk hidup 0%. Sampai sekarang masih dicari vaksinnya. Penderita biasanya bisa langsung meninggal dalam waktu 6 hari sampai 20 hari. Karena keganasan penyakit ini, Ebola adalah penyakit yang paling dihindari untuk terjangkit diseluruh dunia.

                         II.          Penyebab Ebola
virus mungkin didapatkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi (biasanya monyet atau kelelawar).[1] Penyebaran lewat udara belum pernah tercatat dalam lingkungan alami.[2] Kelelawar buah diyakini dapat membawa dan menyebarkan virus tanpa terjangkit. Begitu terjadi infeksi pada manusia, penyakit ini dapat menyebar pada orang-orang. Pria yang selamat dari penyakit ini dapat menularkannya lewat sperma selama hampir dua bulan. Untuk membuat diagnosis, biasanya penyakit lain dengan gejala serupa, seperti malaria, kolera dan demam berdarah virus lainnya harus dikecualikan terlebih dahulu. Untuk memastikan diagnosis, sampel darah diuji untuk antibodi virus, RNA virus, atau virus itu sendiri.
                       III.          Tanda dan gejala
Tanda
a.      Demam
b.     Kelemahan tubuh hebat
c.      Nyeri otot
d.     Sakit kepala dan tenggorokan kering
Gejala penyakit ebola ini kemudian dapat diikuti:
a.      Muntah
b.     Diare
c.      Kemerahan kulit
d.     Gangguan fungsi ginjal dan hati
e.      Pada beberapa kasus terjadi perdarahan dalam dan luar.
Gejala
Masa inkubasi-nya dapat berkisar dari 2 sampai 21 hari tetapi pada umumnya berkisar antara  5-10 hari saja. Awal gejala termasuk demam tinggi (setidaknya 38.8 ° C, 101.8 ° F), sakit kepala parah, sakit otot, atau sakit perut, kelemahan parah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, terjadi pendarahan internal dan eksternal. Sebelum diketahui bahwa gejala ini merupakan gejala ebola, gejala awalnya sangat mirip dengan malaria, demam tipus, disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri.
Lebih lanjut gejala Ebola mungkin lebih serius, seperti diare, kotoran berdarah atau gelap, muntah darah, mata merah distension dan pendarahan arteriola sclerotic, petechia, penyakit ruam dan purpura. Gejala lain, sekunder termasuk hipotensi (tekanan darah rendah), hypovolemia dan tachycardia. Interior pendarahan yang disebabkan oleh reaksi antara virus dan platelet.
Kadang-kadang terjadi internal dan eksternal pendarahan dari beberapa lubang, seperti hidung dan mulut, juga dapat terjadi pada luka-luka yang belum sembuh sepenuhnya. Ebola virus dapat mempengaruhi tingkat sel darah putih dan platelet, mengganggu pembekuan. Lebih dari 50% dari pasien akan mengembangkan beberapa derajat hemorrhaging.

                      IV.          Penularan penyakit ebola
Penularan Ebola pada populasi manusia terjadi melalui kontak erat dengan darah, sekresi, serta organ atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi.  Di Afrika, infeksi telah dilaporkan terjadi karena penanganan simpanse yang terinfeksi, gorila, kelelawar, monyet, kijang hutan dan landak .
Ebola kemudian menyebar di masyarakat melalui transmisi dari  manusia ke manusia, karena kontak langsung (melalui kulit yang luka atau selaput lendir), darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi, dan kontak tidak langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi dengan cairan tersebut. Prosesi pemakaman jenazah, di mana pelayat memiliki kontak langsung dengan tubuh orang yang meninggal juga dapat berperan dalam transmisi Ebola. Pria yang telah sembuh dari penyakit ini masih bisa menularkan virus melalui air mani hingga 7 minggu setelah sembuh dari penyakit.
Petugas kesehatan sering terinfeksi ketika merawat pasien yang diduga atau dikonfirmasi EVD. Hal ini terjadi melalui kontak erat dengan pasien pada saat melakukan perawatan dengan standar universal pre causion yang kurang ketat diterapkan. ketika tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang tidak ketat dipraktekkan. Dilaporkan pula, diantara pekerja yang kontak dengan monyet atau babi yang terinfeksi  Reston Ebolavirus, beberapa infeksi pada manusia secara klinis bersifat  asimtomatik. Berdasarkan hal ini diperkirakan  RESTV kurang mampu menyebabkan penyakit pada manusia daripada spesies Ebola lainnya.
Namun, terlalu dini untuk memperkirakan dampak kesehatan dari virus ebola untuk semua kelompok masyarakat. berbagai faktor perlu diteliti lebih lanjut terkait , status  immuno dan kondisi medis seseorang yang bisa mempengaruhi proses penularan, wanita hamil dan anak-anak.  Juga terkait penelitian mendalam tentang Reston ebolavirus (RESTV), sehingga bisa didapat kesimpulan yang pasti  tentang patogenisitas dan virulensi dari virus ini pada manusia.

                        V.          Pencegahan Ebola
Pencegahan dan Pengendalian demam berdarah ebola

            Pertama, harus dilakukan kontrol Reston Ebolavirus pada binatang ternak. Saat ini belum tersedia vaksin RESTV  pada hewan. Pembersihan rutin dan disinfeksi pada peternakan babi atau monyet (dengan sodium hypochlorite atau deterjen lainnya) harus efektif dalam menonaktifkan virus.
Jika diduga telah terjadi wabah, tempat harus dikarantina dengan segera. Kemudian diikuti dengan tindakan pemusnahan hewan yang terinfeksi, dengan pengawasan yang ketat dari penguburan atau pembakaran bangkai, sehingga dapat meminimalisasi risiko penularan dari hewan ke manusia. Juga dengan membatasi atau melarang pergerakan hewan dari peternakan yang terinfeksi ke daerah lain sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit.
Sebagaimana wabah RESTV pada babi dan monyetyang  telah mendahului infeksi pada manusia, maka harus ditegakkan sistem surveilans kesehatan aktif pada hewan untuk mendeteksi kasus baru, Hal ini sangat penting dilakukan untuk emberikan peringatan dini bagi otoritas kesehatan, veteriner  dan masyarakat.
Tindakan mengurangi risiko infeksi Ebola pada manusia   
            Dengan tidak adanya vaksin dan pengobatan yang efektif pada manusia, maka usaha perlindungan individu serta usaha untuk meningkatkan kesadaran akan faktor risiko infeksi Ebola merupakan satu-satunya cara yang dapat diambil untuk mengurangi infeksi dan kematian pada manusia.
Di Afrika, selama wabah EVD, kampanye pendidikan dan pesan kesehatan masyarakat untuk pengurangan risiko harus fokus pada beberapa faktor:
1.     Untuk mengurangi risiko penularandari satwa liar ke manusia dengan menghindari  kontak dengan monyet atau  kelelawar buah  yang terinfeksi, juga dengan tidak mengkonsumsi daging mentah mereka. Selalu menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung yang sesuai ketika berhubungan dengan hewan ternak. Produk-produk hewani (darah dan daging) harus dimasak dengan matang sebelum dikonsumsi.
2.     Untuk mengurangi risiko penularan dari manusia ke manusia, karena kontak langsung atau dekat dengan pasien yang terinfeksi (terutama dengan cairan tubuh mereka), maka harus dihindari kontak fisik yang erat dengan pasien Ebola. Selalu menggunakan sarung tangan dan alat pelindung diri yang sesuai lainnya ketika merawat pasien yang sakit di rumah. Juga tindakan mencuci tangan secara teratur setelah mengunjungi pasien di rumah sakit, serta setelah merawat pasien di rumah.
Pada wilayah wabah, harus diinformasikan kepada masyarakat terkait sifat penyakit dan langkah-langkah yang memungkinkan dapat mencegah wabah, termasuk prosedur aman pemakaman korban ebola.
Ditengarai peternakan babi di Afrika berperan penting pada penularan diantaranya karena kehadiran kelelawar buah di peternakan ini. Tindakan biosekuriti yang tepat harus diterapkan untuk membatasi transmisi.  Untuk RESTV, pesan pendidikan kesehatan masyarakat harus lebih ditekankan pada usaha mengurangi risiko penularan dari babi ke manusia sebagai hasil dari praktik penyembelihan yang tidak aman pada peternakan.  Juga konsumsi yang tidak aman dari produk hewan, darah, dan susu mentah. Sarung tangan dan pakaian pelindung yang sesuai lainnya harus dipakai saat menangani hewan yang sakit atau ketika proses penyembelihan. Di daerah di mana RESTV telah dilaporkan pada babi, semua produk hewani (darah, daging dan susu) harus dimasak dengan matang sebelum dikonsumsi.
Mengontrol infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan
Penularan virus ebola dari manusia ke manusia, terutama terkait dengan kontak langsung atau tidak langsung dengan darah dan cairan tubuh. Penularan ke petugas kesehatan telah dilaporkan ketika langkah pengendalian infeksi yang tepat belum diterapkan. Hal ini tidak selalu terjadi untuk mengidentifikasi awal pasien dengan EBV, karena gejala awal mungkin tidak spesifik. Untuk alasan ini, penting bahwa petugas kesehatan selalu menerapkan secara konsisten standar kewaspadaan pada semua pasien – terlepas dari diagnosis mereka – pada seluruh praktek kerja pada setiap saat. Hal ini mencakup pula kebersihan tangan dasar, kebersihan pernapasan, penggunaan alat pelindung diri (sesuai risiko percikan atau kontak lainnya dengan bahan yang terinfeksi), jaga praktik aman untuk injeksi  dan pemulasaraan jenazah.
Petugas kesehatan yang merawat pasien yang diduga atau dikonfirmasi terkena virus Ebola harus selalu menerapkan standar tindakan pencegahan dan langkah pengendalian infeksi lain untuk menghindari paparan darah dan cairan tubuh pasien dan menghindari kontak tanpa pelindung langsung dengan lingkungan yang mungkin tercemar. Ketika kontak dekat (1 meter) antara petugas dengan pasien EBV, petugas kesehatan harus memakai pelindung wajah (masker bedah dan kacamata), gaun lengan panjang dan sarung tangan steril.
Demikian juga dengan risiko pada petugas laboratorium. Sampel yang diambil untuk keperluan diagnosis, dari suspek penderita virus ebola baik pada manusia maupun hewan harus ditangani oleh petugas  terlatih dan diproses di laboratorium sesuai standar WHO. Dalam hal ini WHO memberikan pelatihan untuk mendukung investigasi dan pengendalian penyakit.
Rekomendasi untuk pengendalian infeksi saat memberikan perawatan pasien yang diduga atau dikonfirmasi menderita demam berdarah ebola, antara lain dapat dilakukan dalam bentuk rekomendasi interim pencegahan dan pengendalian infeksi untuk perawatan pasien yang diduga atau dikonfirmasi menderita demam berdarah Filovirus (Ebola, Marburg).
WHO telah menciptakan standar tindakan pencegahan dalam perawatan kesehatan. Standar ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko penularan melalui darah dan zat patogen lainnya. Jika diterapkan secara universal, standar ini akan membantu mencegah sebagian besar penularan melalui paparan darah dan cairan tubuh.
Standar tindakan pencegahan yang dianjurkan dalam perawatan dan pengobatan pasien tanpa memandang status infeksi mereka (suspek maupun confirmed).  Termasuk dalam standar mencakup kontrol kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri untuk menghindari kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh, pencegahan luka karena jarum suntik dan benda tajam lainnya, serta pengendalian lingkungan secara umum.

 



2 komentar: