![]() |
| virus ebola |
I.
Definisi Ebola
Penyakit virus
ebola
(EVD) atau demam berdarah Ebola (EHF) adalah penyakit pada manusia yang
disebabkan oleh virus Ebola. Gejalanya biasanya dimulai dua hari
hingga tiga minggu setelah terjangkit virus, dengan adanya demam,
sakit tenggorokan, nyeri otot,
dan sakit kepala. Biasanya diikuti dengan mual,
muntah, dan diare,
serta menurunnya fungsi liver
dan ginjal.
Pada saat itu, beberapa orang mulai mengalami masalah pendarahan.
Virus Ebola pertama kali muncul pada
tahun 1976 di Zaire dan Sudan. Kasus Ebola di Zaire memiliki salah satu tingkat
fatalitas kasus tertinggi dari virus patogen manusia, sekitar 90%, dengan
tingkat fatalitas kasus 88% pada tahun 1976, 59% pada tahun 1994, 81% pada
tahun 1995, 73% pada tahun 1996, 80% pada 2001-2002, dan 90% pada tahun 2003.
Di Sudan memiliki tingkat fatalitas kasus sekitar 50%.
Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung dengan cairan tubuh
atau kulit penderita. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21 hari, umumnya
antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan vaksin untuk Ebola yang
90% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk manusia belum
ditemukan.
Penyakit Ebola merupakan penyakit yang paling mematikan diseluruh dunia.
Karena bila terinfeksi maka kesempatan untuk hidup 0%. Sampai sekarang masih
dicari vaksinnya. Penderita biasanya bisa langsung meninggal dalam waktu 6 hari
sampai 20 hari. Karena keganasan penyakit ini, Ebola adalah penyakit yang
paling dihindari untuk terjangkit diseluruh dunia.
II.
Penyebab Ebola
virus mungkin didapatkan melalui kontak dengan darah
atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi (biasanya monyet
atau kelelawar).[1]
Penyebaran lewat udara belum pernah tercatat dalam lingkungan alami.[2]
Kelelawar buah diyakini dapat membawa dan menyebarkan virus tanpa terjangkit.
Begitu terjadi infeksi pada manusia, penyakit ini dapat menyebar pada
orang-orang. Pria yang selamat dari penyakit ini dapat menularkannya lewat sperma
selama hampir dua bulan. Untuk membuat diagnosis, biasanya penyakit lain dengan
gejala serupa, seperti malaria,
kolera
dan demam berdarah virus
lainnya harus dikecualikan terlebih dahulu. Untuk memastikan diagnosis, sampel
darah diuji untuk antibodi
virus, RNA
virus, atau virus itu sendiri.
III.
Tanda dan gejala
Tanda
a. Demam
b. Kelemahan
tubuh hebat
c. Nyeri
otot
d. Sakit
kepala dan tenggorokan kering
Gejala penyakit ebola ini kemudian
dapat diikuti:
a. Muntah
b. Diare
c. Kemerahan
kulit
d. Gangguan
fungsi ginjal dan hati
e. Pada
beberapa kasus terjadi perdarahan dalam dan luar.
Gejala
Masa inkubasi-nya dapat berkisar dari 2 sampai 21 hari tetapi pada umumnya
berkisar antara 5-10 hari saja. Awal gejala termasuk demam tinggi
(setidaknya 38.8 ° C, 101.8 ° F), sakit kepala parah, sakit otot, atau sakit
perut, kelemahan parah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, terjadi
pendarahan internal dan eksternal. Sebelum diketahui bahwa gejala ini merupakan
gejala ebola, gejala awalnya sangat mirip dengan malaria, demam tipus,
disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri.
Lebih lanjut gejala Ebola mungkin lebih serius, seperti diare, kotoran
berdarah atau gelap, muntah darah, mata merah distension dan pendarahan
arteriola sclerotic, petechia, penyakit ruam dan purpura. Gejala lain, sekunder
termasuk hipotensi (tekanan darah rendah), hypovolemia dan tachycardia.
Interior pendarahan yang disebabkan oleh reaksi antara virus dan platelet.
Kadang-kadang terjadi internal dan eksternal pendarahan dari beberapa
lubang, seperti hidung dan mulut, juga dapat terjadi pada luka-luka yang belum
sembuh sepenuhnya. Ebola virus dapat mempengaruhi tingkat sel darah putih dan
platelet, mengganggu pembekuan. Lebih dari 50% dari pasien akan mengembangkan
beberapa derajat hemorrhaging.
IV.
Penularan penyakit ebola
Penularan Ebola pada populasi manusia terjadi melalui kontak erat dengan
darah, sekresi, serta organ atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang
terinfeksi. Di Afrika, infeksi telah dilaporkan terjadi karena penanganan
simpanse yang terinfeksi, gorila, kelelawar, monyet, kijang hutan dan landak .
Ebola kemudian menyebar di masyarakat melalui transmisi dari
manusia ke manusia, karena kontak langsung (melalui kulit yang luka atau
selaput lendir), darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang
terinfeksi, dan kontak tidak langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi
dengan cairan tersebut. Prosesi pemakaman jenazah, di mana pelayat memiliki
kontak langsung dengan tubuh orang yang meninggal juga dapat berperan dalam
transmisi Ebola. Pria yang telah sembuh dari penyakit ini masih bisa menularkan
virus melalui air mani hingga 7 minggu setelah sembuh dari penyakit.
Petugas kesehatan sering terinfeksi ketika merawat pasien yang diduga
atau dikonfirmasi EVD. Hal ini terjadi melalui kontak erat dengan pasien pada
saat melakukan perawatan dengan standar universal pre causion yang kurang ketat
diterapkan. ketika tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang tidak
ketat dipraktekkan. Dilaporkan pula, diantara pekerja yang kontak dengan monyet
atau babi yang terinfeksi Reston Ebolavirus, beberapa infeksi pada
manusia secara klinis bersifat asimtomatik. Berdasarkan hal ini
diperkirakan RESTV kurang mampu menyebabkan penyakit pada manusia
daripada spesies Ebola lainnya.
Namun, terlalu dini untuk memperkirakan dampak kesehatan dari virus ebola
untuk semua kelompok masyarakat. berbagai faktor perlu diteliti lebih lanjut
terkait , status immuno dan kondisi medis seseorang yang bisa
mempengaruhi proses penularan, wanita hamil dan anak-anak. Juga terkait
penelitian mendalam tentang Reston ebolavirus (RESTV), sehingga bisa didapat
kesimpulan yang pasti tentang patogenisitas dan virulensi dari virus ini
pada manusia.
V.
Pencegahan Ebola
Pencegahan
dan Pengendalian demam berdarah ebola
Pertama, harus dilakukan kontrol Reston Ebolavirus pada binatang ternak. Saat ini belum tersedia vaksin RESTV pada hewan. Pembersihan rutin dan disinfeksi pada peternakan babi atau monyet (dengan sodium hypochlorite atau deterjen lainnya) harus efektif dalam menonaktifkan virus.
Jika diduga
telah terjadi wabah, tempat harus dikarantina dengan segera. Kemudian diikuti
dengan tindakan pemusnahan hewan yang terinfeksi, dengan pengawasan yang ketat
dari penguburan atau pembakaran bangkai, sehingga dapat meminimalisasi risiko
penularan dari hewan ke manusia. Juga dengan membatasi atau melarang pergerakan
hewan dari peternakan yang terinfeksi ke daerah lain sehingga dapat mengurangi
penyebaran penyakit.
Sebagaimana
wabah RESTV pada babi dan monyetyang telah mendahului infeksi pada
manusia, maka harus ditegakkan sistem surveilans kesehatan aktif pada hewan
untuk mendeteksi kasus baru, Hal ini sangat penting dilakukan untuk emberikan peringatan
dini bagi otoritas kesehatan, veteriner dan masyarakat.
Tindakan
mengurangi risiko infeksi Ebola pada manusia
Dengan tidak adanya vaksin dan pengobatan yang efektif pada manusia, maka usaha perlindungan individu serta usaha untuk meningkatkan kesadaran akan faktor risiko infeksi Ebola merupakan satu-satunya cara yang dapat diambil untuk mengurangi infeksi dan kematian pada manusia.
Dengan tidak adanya vaksin dan pengobatan yang efektif pada manusia, maka usaha perlindungan individu serta usaha untuk meningkatkan kesadaran akan faktor risiko infeksi Ebola merupakan satu-satunya cara yang dapat diambil untuk mengurangi infeksi dan kematian pada manusia.
Di Afrika,
selama wabah EVD, kampanye pendidikan dan pesan kesehatan masyarakat untuk
pengurangan risiko harus fokus pada beberapa faktor:
1.
Untuk mengurangi risiko penularandari satwa liar ke
manusia dengan menghindari kontak dengan monyet atau kelelawar
buah yang terinfeksi, juga dengan tidak mengkonsumsi daging mentah
mereka. Selalu menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung yang sesuai
ketika berhubungan dengan hewan ternak. Produk-produk hewani (darah dan daging)
harus dimasak dengan matang sebelum dikonsumsi.
2.
Untuk mengurangi risiko penularan dari manusia ke
manusia, karena kontak langsung atau dekat dengan pasien yang terinfeksi
(terutama dengan cairan tubuh mereka), maka harus dihindari kontak fisik yang
erat dengan pasien Ebola. Selalu menggunakan sarung tangan dan alat pelindung
diri yang sesuai lainnya ketika merawat pasien yang sakit di rumah. Juga
tindakan mencuci tangan secara teratur setelah mengunjungi pasien di rumah
sakit, serta setelah merawat pasien di rumah.
Pada wilayah
wabah, harus diinformasikan kepada masyarakat terkait sifat penyakit dan langkah-langkah yang memungkinkan dapat mencegah wabah,
termasuk prosedur aman pemakaman korban ebola.
Ditengarai
peternakan babi di Afrika berperan penting pada penularan diantaranya karena
kehadiran kelelawar buah di peternakan ini. Tindakan biosekuriti yang tepat
harus diterapkan untuk membatasi transmisi. Untuk RESTV, pesan pendidikan
kesehatan masyarakat harus lebih ditekankan pada usaha mengurangi risiko
penularan dari babi ke manusia sebagai hasil dari praktik penyembelihan yang
tidak aman pada peternakan. Juga konsumsi yang tidak aman dari produk
hewan, darah, dan susu mentah. Sarung tangan dan pakaian pelindung yang sesuai
lainnya harus dipakai saat menangani hewan yang sakit atau ketika proses
penyembelihan. Di daerah di mana RESTV telah dilaporkan pada babi, semua produk
hewani (darah, daging dan susu) harus dimasak dengan matang sebelum dikonsumsi.
Mengontrol infeksi
di fasilitas pelayanan kesehatan
Penularan
virus ebola dari manusia ke manusia, terutama terkait dengan kontak langsung
atau tidak langsung dengan darah dan cairan tubuh. Penularan ke petugas
kesehatan telah dilaporkan ketika langkah pengendalian infeksi yang tepat belum
diterapkan. Hal ini tidak selalu terjadi untuk mengidentifikasi awal pasien
dengan EBV, karena gejala awal mungkin tidak spesifik. Untuk alasan ini,
penting bahwa petugas kesehatan selalu menerapkan secara konsisten standar
kewaspadaan pada semua pasien – terlepas dari diagnosis mereka – pada seluruh
praktek kerja pada setiap saat. Hal ini mencakup pula kebersihan tangan dasar,
kebersihan pernapasan, penggunaan alat pelindung diri (sesuai risiko percikan
atau kontak lainnya dengan bahan yang terinfeksi), jaga praktik aman untuk
injeksi dan pemulasaraan jenazah.
Petugas
kesehatan yang merawat pasien yang diduga atau dikonfirmasi terkena virus Ebola
harus selalu menerapkan standar tindakan pencegahan dan langkah pengendalian
infeksi lain untuk menghindari paparan darah dan cairan tubuh pasien dan
menghindari kontak tanpa pelindung langsung dengan lingkungan yang mungkin
tercemar. Ketika kontak dekat (1 meter) antara petugas dengan pasien EBV,
petugas kesehatan harus memakai pelindung wajah (masker bedah dan kacamata),
gaun lengan panjang dan sarung tangan steril.
Demikian
juga dengan risiko pada petugas laboratorium. Sampel yang diambil untuk
keperluan diagnosis, dari suspek penderita virus ebola baik pada manusia maupun
hewan harus ditangani oleh petugas terlatih dan diproses di laboratorium
sesuai standar WHO. Dalam hal ini WHO memberikan pelatihan untuk mendukung
investigasi dan pengendalian penyakit.
Rekomendasi
untuk pengendalian infeksi saat memberikan perawatan pasien yang diduga atau
dikonfirmasi menderita demam berdarah ebola, antara lain dapat dilakukan dalam
bentuk rekomendasi interim pencegahan dan pengendalian infeksi untuk perawatan
pasien yang diduga atau dikonfirmasi menderita demam berdarah Filovirus (Ebola,
Marburg).
WHO telah
menciptakan standar tindakan pencegahan dalam perawatan kesehatan. Standar ini
dimaksudkan untuk mengurangi risiko penularan melalui darah dan zat patogen
lainnya. Jika diterapkan secara universal, standar ini akan membantu mencegah
sebagian besar penularan melalui paparan darah dan cairan tubuh.
Standar tindakan pencegahan yang
dianjurkan dalam perawatan dan pengobatan pasien tanpa memandang status infeksi
mereka (suspek maupun confirmed). Termasuk dalam standar mencakup kontrol
kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri untuk menghindari kontak
langsung dengan darah dan cairan tubuh, pencegahan luka karena jarum suntik dan
benda tajam lainnya, serta pengendalian lingkungan secara umum.

bunda upload video ni
BalasHapusjangan sering- sering ya bunda
biar pembaca nyari sendiri di youtube
iya ayah
BalasHapus